Gereja Katedral, salah satu tempat wisata di Jakarta yang resmi jadi bangunan cagar budaya

Kota Jakarta memang terkenal memiliki berbagai bangunan bersejarah yang patut untuk tidak dilewatkan, salah satunya adalah Gereja Katedral. Gereja Katedral merupakan salah satu tempat ibadah sekaligus menjadi tempat wisata di Jakarta yang resmi sebagai bangunan cagar budaya.

Gereja Katedral
Gereja Katedral menjadi salah satu tempat wisata di Jakarta yang sekaligus menjadi bangunan bersejarah, bangunan ini dibangun ketika Paus Pius VII mengangkat seorang pastor bernama Nelissen pada tahun 1807. Dengan begitu, dimulai lah penyebaran dan pembangunan Gereja Katolik di Indonesia, yaitu termasuk pula di Jakarta.

Gereja Katedral memiliki bangunan bergaya Eropa dan neo gotik yang mewah namun sangat nyaman untuk dipandang. Salah satu tempat wisata di Jakarta yang diminati wisatawan ini memiliki daun pintu yang menjulang tinggi dan banyak jendela seperti kebanyakan bangunan di Eropa.

Selain menjadi tempat ibadah, tentunya Gereja Katedral merupakan bangunan cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya, karena di dalamnya terdapat perpustakaan serta Museum yang menjelaskan tentang sejarah penyebaran agama Katolik di Indonesia terutama Kota Jakarta.

Museum Katedral diresmikan pada tahun 1991 oleh Mgr Julius Darmaartmadja. Di dalamnya terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang bisa memberikan pengetahuan mulai dari jaman dahulu hingga generasi sekarang yang sangat menakjubkan untuk di pelajari. Untuk mengunjunginya, kamu bisa datang setiap hari Senin, Rabu dan Jumat mulai pukul 10.00 – 12.00 siang.
Untuk menuju ke Gereja Katedral ini, cukup mudah dan strategis. Hal ini karena Gereja Katedral sendiri berada berseberangan dengan Masjid Istiqlal, dimana merupakan bentuk toleransi yang sudah terjaga sejak dahulu tanpa adanya pertikaian dan rasa kebersamaan yang dijunjung tinggi.

Itulah informasi mengenai Gereja Katedral, salah satu tempat wisata di Jakarta yang resmi jadi bangunan cagar budaya yang harus dijaga agar tetap eksis. Jika kamu belum mengunjunginya, tunggu apalagi? Kamu bisa menikmati kemewahan bangunan Gereja Katedral serasa berada di luar negeri tanpa harus pergi ke Eropa loh.

post

Pilot dan Co-Pilot Tak Boleh Menyantap Makanan yang Sama? Ternyata Ini Alasannya

Banyak dari kita yang sering menggunakan pesawat terbang untuk bepergian.
Tentu kita sudah tahu banyak hal yang terjadi selama terbang di pesawat, dari hiburan di kursi, pilihan makanan, hingga hal-hal yang membuat saraf tegang seperti turbulensi atau cuaca buruk.

Namun tentu kita tidak selalu tahu apa yang terjadi di kokpit, tempat pilot mengendalikan pesawat.
Ternyata beberapa maskapai penerbangan menerapkan aturan soal makanan pada pilot dan co-pilot.

Sesuai aturan itu, pilot dan co-pilot tidak akan makan makanan yang sama saat berada di tempat kerja alias sedang menerbangkan pesawat.
Alasannya masuk akal: Jika makanannya salah—dan menyebabkan keracunan, misalnya— maka co-pilot yang makan makanan berbeda seharusnya tidak ikut keracunan dan tetap bisa mengambil alih menerbangkan pesawat.

Selain itu kebanyakan pilot menghindari makanan-makanan tertentu yang bisa menimbulkan risiko sakit perut, seperti ikan mentah atau sambal, sebelum dan selama jam kerja karena alasan yang sama.
Ini bukan aturan yang diturunkan oleh Federal Aviation Administration (FAA), meskipun kebanyakan perusahaan penerbangan menerapkan peraturan mereka sendiri mengenai hal ini.
Keracunan makanan di kokpit juga nyaris tidak pernah terdengar, kecuali pada tahun 1982, sebuah penerbangan dari Boston ke Lisbon berbalik saat 12 awak pesawat, termasuk pilot, co-pilot, dan teknisi penerbangan, jatuh sakit setelah makan puding berbahan tapioka yang mengandung racun.

Selain itu, dua pilot di Inggris mendapat keracunan makanan pada tahun 2010 saat bertugas. Beruntung, kejadian seperti ini cukup langka.
Selain alasan keamanan, masakan untuk pilot dan co-pilot juga berjenjang. Kapten pilot biasanya makan makanan dari kelas satu, sementara co-pilot menerima makanan kelas bisnis, kata Kapten Han Hee-seong dari China Eastern Airlines kepada CNN.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa kapten yang murah hati akan membiarkan rekannya memilih makanan mereka terlebih dahulu.